Bung Hatta dalam Kenangan Keluarga: Seorang Proklamator yang Tidak Pernah Bangga

Menurut Meutia Farida Hatta, sang ayah, Mohammad Hatta, tidak pernah membanggakan perannya sebagai proklamator kemerdekaan RI. Dia adalah sosok yang sangat bersahaja.
=== Sebuah tulisan yang mengingatkan tentang sosok Bung Hatta dalam ingatan keluarga. Berikut ini adalah kenangan dari Meutia Farida Hatta, putri Bung Hatta, yang menggambarkan bagaimana kehidupan dan peran ayahnya dalam momen penting seperti 17 Agustus.
Perayaan 17 Agustus dalam Keluarga
Tanggal 17 Agustus selalu merupakan tanggal yang khusus dalam keluarga kami. Tidak saja karena hari itu merupakan hari ulang tahun kemerdekaan RI, namun juga karena ayah kami, Bung Hatta, terlibat langsung dalam peristiwa proklamasi kemerdekaan itu sendiri, sebagai salah seorang proklamator kemerdekaan RI. Oleh karena itulah maka tanggal 17 Agustus kami lewati dengan kesan maupun kenangan tersendiri, baik kenangan yang manis maupun kenangan yang mengharukan.
Upacara Bendera di Istana Merdeka
Untuk mengenang kembali kebersamaan anak dan ayah dalam merayakan hari kemerdekaan Indonesia, lembaran kenangan dalam ingatan saya dikembalikan hingga kurang lebih 34 tahun yang lalu. Ketika itu ayah masih menjabat sebagai Wakil Presiden pertama RI. Pada saat itu, Megawati Soekarnoputri dan saya, masing-masing sebagai putri pertama Presiden dan Wakil Presiden RI, dalam usia yang masih muda sekali, tujuh tahun, telah dilibatkan dalam upacara penaikan bendera pusaka di Istana Merdeka di pagi hari, dan juga pada penurunan bendera pusaka di sore harinya.
Kami bertugas membawa baki yang masing-masing berisi tutup peti bendera pusaka dan kunci peti bendera pusaka dan berdiri di samping ayah masing-masing. Kemudian Wakil Presiden membuka kain penutup peti dan meletakkannya di atas baki saya. Selanjutnya Presiden membuka peti dari kunci yang diambil dari baki Megawati. Berikutnya, bendera diserahterimakan kepada penerima bendera, yang pada pemerintahan Orde Baru sekarang dikenal dengan istilah Paskibraka, untuk dikibarkan di sepanjang hari itu. Pada penurunan bendera pusaka di sore harinya, kami mengulangi kembali tugas tersebut.
Seingat saya, partisipasi saya dalam acara ini berlangsung selama tiga tahun, ketika berusia 7-9 tahun. Keterlibatan Megawati dan saya dalam upacara itu bersifat resmi, dan diperlukan adanya gladi resik yang cukup intensif selama beberapa hari. Maka kalau diurut dari awal tradisi penaikan dan penurunan bendera pusaka sejak tanggal 17 Agustus 1945 hingga tahun 1988 ini, tidak salah kiranya kalau saya merasa bahwa saya adalah anggota termuda yang pernah berpartisipasi dalam upacara penaikan dan penurunan bendera pusaka Sang Merah Putih.
Tidak Diundang ke Istana
Ketika Bung Hatta tidak lagi menjadi Wakil Presiden RI, beliau sepenuhnya memberikan kesempatan kepada Bung Karno untuk tampil sendiri dalam arena politik dan pemerintahan. Hal ini juga berarti bahwa beliau tidak ingin tampil dalam acara-acara bersama dengan Bung Karno, khususnya di mana peranannya hanya bersifat pasif atau hanya sebagai salah satu dari hadirin. Oleh karena itu, sejak 17 Agustus 1957 hingga tahun 1968, beliau tidak lagi muncul di Istana Merdeka pada upacara peringatan hari kemerdekaan Indonesia. Meskipun dalam hal-hal tertentu, sikap Bung Hatta itu memudahkan protokoler istana, namun ada pula masa di mana terdapat kekeliruan administrasi, yaitu beliau memang tidak diundang oleh pihak istana pada peringatan hari bersejarah yang melibatkan namanya.
Ciuman untuk Ayah
Pernah pula, pada tanggal 17 Agustus 1959, kami berada di rumah adik ayah, Ny. Sanusi Galib, di Bandung. Masyarakat Bandung merayakannya dengan mengadakan pawai massal, dan dari halaman rumah adik ayah saya itu, kami menyaksikan perayaan tersebut. Sejumlah orang merasa heran atau kaget melihat Bung Hatta berada di Bandung dan menyaksikan mereka berpawai, sehingga mereka memberi salam dan menegurnya dengan gembira.
Foto Terakhir
Rupanya bukan kami saja yang mempunyai perasaan tersebut. Halida ingat bahwa dr. Hazniel Zainal yang tinggal di Jl. Pegangsaan Barat, selalu hadir di pagi itu. Cukup singkat, sekitar lima menit, untuk menyampaikan salam dan selamat hari kemerdekaan. Waktu Halida kecil, dia menganggap peristiwa itu biasa saja, karena dokter mempunyai kebiasaan berjalan-jalan di pagi atau sore hari dan kebetulan lewat rumah kami.
Dianugerahi Bintang Republik
Ada suatu kenangan khusus dari 17 Agustus yang takkan kami lupakan, yaitu pada tahun 1972. Ayah kami lahir pada tanggal 12 Agustus 1902, berarti pada tahun 1972, beliau berusia 70 tahun. Karena bilangan itu bersifat khusus, maka sebagian handai tolan dan keluarga merayakannya secara khusus dengan pembentukan sebuah panitia ulang tahun. Pada tahun itu juga, pemerintah menganugerahkan Bintang Republik (bintang tertinggi) atas jasa Bung Hatta bagi tanah air dan bangsa.
Ber-17 Agustus-an di Tanah Kusir
Masih ada beberapa peristiwa khusus yang mengaitkan hari lahir Bung Hatta dengan peringatan 17 Agustus. Pada tanggal 12 Agustus 1981, pemerintah RI diwakili oleh Menteri Sekretaris Kabinet (sekarang Mensesneg) Moerdiono, meletakkan batu pertama pembangunan makam Bung Hatta di Tanah Kusir. Setahun kemudian makam tersebut selesai dibangun, dan tepat pada tanggal 12 Agustus 1982, diresmikan oleh Presiden Soeharto dalam salah satu upacara yang merupakan rangkaian acara memperingati 17 Agustus 1982.
===
Begitulah kenang-kenangan Meutia Farida Hatta kepada ayahnya, Mohammad Hatta.

Posting Komentar untuk "Bung Hatta dalam Kenangan Keluarga: Seorang Proklamator yang Tidak Pernah Bangga"