Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kades Hoho Viral Lagi, Curhatan Dihujani Pukulan dari Keluarga Terpandang Banjarnegara

Ringkasan Berita

Hoho Alkaf mengaku mengalami serangan fisik dari berbagai arah hingga menyebabkan atribut kedinasannya rusak dan dirinya mengalami luka. Insiden tersebut bahkan membuat kacamata yang dikenakannya pecah akibat pukulan dari massa. Ia menjelaskan bahwa dirinya belum sempat mendapatkan pengawalan aparat ketika serangan tersebut terjadi.

Kata Bunda Rosnia

Sosok kepala desa (kades) Purwasaba, Kecamatan Mandiraja, Kabupaten Banjarnegara Welas Yuni Nugroho atau yang lebih dikenal dengan nama Hoho Alkaf. Sebelumnya, Kades Hoho viral di media sosial karena memiliki tato di sekujur tubuh. Kini Hoho kembali viral terkait kejadian yang menimpa dirinya. Hoho menjadi korban pengeroyokan saat terjadi aksi demonstrasi yang berlangsung di Kantor Balai Desa Purwasaba Selasa (11/3/2026). Keributan dikarenakan geger seleksi perangkat desa. Video detik-detik pengeroyokan sempat tersebar luas di internet.

Sosok Hoho Alkaf


Dikutip dari Skripsi Strategi Pemenangan Calon Kepala Desa Bertato Pada Pilkades Tahun 2019 yang ditulis mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Al Hafizs Munandar, diketahui Kades Hoho lahir Banjarnegara, 11 Juni 1983. Ia kini telah berumur 43 tahun. Kades Hoho memiliki nama lengkap Welas Yuni Nugroho. Nama itu diberikan oleh kedua orang tuanya, Hartati dan Siswoyo Siswoharsono. Anak terakhir dari empat bersaudara ini berasal dari keluarga terpandang. Sang ayah merupakan anggota DPRD Banjarnegara yang menjabat empat kali periode. Siswoyo juga mantan Kepala Desa Purwasaba periode 1990-1998.

Di usia sekolah, Hoho dikenal sebagai anak "nakal". Meski demikian ia berhasil menyelesaikan pendidikannya, bahkan sampai perguruan tinggi. Ia mengambil jurusan S1 Hukum di Universitas Islam Sultan Agung Semarang. Untuk S2, ia mengambil jurusan yang sama. Berikut riwayat pendidikannya:

  • SD di Desa Purwasaba
  • SMP di Desa Purwasaba
  • SMA 1 Purwonegoro
  • S1 Hukum di Universitas Islam Sultan Agung Semarang
  • S2 Magister Hukum Universitas Jenderal Soedirman

Ikut Jejak sang Ayah

Hoho kemudian melanjutkan perjuangan sang ayah menjadi kepala Desa Purwasaba, Kecamatan Mandiraja, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Ia merupakan calon incumbent yang maju lagi di Pilkades 31 Juli Tahun 2019 yang lalu. Kala itu dia bertarung dengan dua calon lain, bernama Bondan Apriyanto dan Huru Purwanto. Pada akhirnya, Hoho menang dengan memperoleh 1.899 suara sah. Selama memimpin desa, Hoho dikenal nyentrik. Selain karena memiliki tato di hampir seluruh tubuhnya, ia juga berani membuat gebrakan di desanya, khususnya di sektor pariwisata. Kades Hoho juga aktif di media sosial. Ia memiliki akun Instagram @hoho_alkaff dengan jumlah pengikut lebih dari 894.000.

Kades Hoho Dikeroyok

Baru-baru ini media sosial dihebohkan dengan kabar kurang mengenakan dari kepala desa nyentrik dari Desa Purwasaba atau yang dikenal dengan nama Kades Hoho. Dalam video singkat yang beredar di media sosial, nampak Kades Hoho dengan pakaian dinas yang terkoyak keluar dari kantor desa dengan pengawalan polisi. Peristiwa itu rupanya rentetan dari kericuhan yang terjadi dalam aksi unjuk rasa yang digelar ratusan anggota Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di Balai Desa Purwasaba, Kecamatan Mandiraja, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, Selasa (11/3/2026). Demonstrasi yang awalnya berlangsung sebagai forum penyampaian aspirasi tersebut berubah menjadi insiden kekerasan.

Kepala Desa Purwasaba, Welas Yuni Nugroho atau yang dikenal dengan nama Hoho Alkaf, mengaku menjadi korban pengeroyokan oleh massa. Peristiwa itu dipicu oleh tuntutan sejumlah peserta aksi yang meminta agar hasil penjaringan perangkat desa dibatalkan dan diulang. Ketegangan semakin meningkat ketika pemerintah desa menolak permintaan tersebut karena proses seleksi dinilai telah dilakukan sesuai aturan yang berlaku. Situasi yang memanas akhirnya berujung pada aksi penyerangan terhadap kepala desa saat ia hendak meninggalkan lokasi setelah audiensi dengan massa.

Hoho Alkaf mengaku mengalami serangan fisik dari berbagai arah hingga menyebabkan atribut kedinasannya rusak dan dirinya mengalami luka. Insiden tersebut bahkan membuat kacamata yang dikenakannya pecah akibat pukulan dari massa. Melalui unggahan di akun media sosial pribadinya, Instagram @hoho_alkaff, Hoho menceritakan kronologi kejadian yang menimpanya saat hendak keluar dari aula balai desa. "Waktu saya baru keluar dari pintu aula, sebelum dikawal, langsung pukulan menghujani dari belakang, samping, dan depan. Kacamata saya sampai remuk karena dipukul dari depan," ungkap Hoho, dikutip Kamis (12/3/2026). Ia menjelaskan bahwa dirinya belum sempat mendapatkan pengawalan aparat ketika serangan tersebut terjadi.

Massa yang berada di sekitar lokasi langsung memukul dari berbagai arah. "Saya hendak keluar dari balai desa, tapi langsung diserang dan dikeroyok. Kacamata saya pecah dan baju saya robek," ungkap Hoho dalam unggahan yang kemudian viral di media sosial. Akibat kejadian itu, kacamata yang dikenakannya pecah, pakaian dinasnya robek, serta atribut kepala desa yang melekat pada seragamnya terlepas karena ditarik-tarik oleh massa. "Logo atribut saya juga pada rogol. Papan nama jatuh karena ketarik-ketarik," katanya. Hoho juga menegaskan bahwa video yang beredar di media sosial tidak sepenuhnya menggambarkan kejadian yang sebenarnya. Menurutnya, rekaman tersebut memperlihatkan kondisi saat dirinya sudah berada dalam pengamanan aparat. "Di video itu memang suruh keluar semua, tapi kenyataannya tidak seperti itu. Dan ada yang bilang saya tidak dikeroyok. Memang di video itu saya sudah diamankan karena sudah di belakang mobil," jelasnya.

Kericuhan Dipicu Hasil Seleksi Perangkat Desa

Hoho menyebut aksi demonstrasi tersebut dipicu oleh ketidakpuasan salah satu anggota LSM yang tidak lolos dalam proses seleksi perangkat desa. Massa menuntut agar proses penjaringan perangkat desa yang sudah mencapai tahap pengumuman hasil dibatalkan dan diulang kembali. Namun permintaan tersebut ditolak oleh pemerintah desa karena seluruh tahapan seleksi dinilai telah dilaksanakan sesuai prosedur dan mekanisme yang berlaku. "Saya minta keadilan, saya pejabat pemerintah sudah melaksanakan, pekerjaan saya sebaik-baiknya, begitupula dengan panitia. Tetapi saya dipaksa mengulang, karena anggota dari LSM itu nilainya di bawah, tapi maunya diulang, kita kiblatnya regulasi tapi mereka tetap tidak mau tahu," katanya. Hoho menegaskan bahwa hasil seleksi perangkat desa tidak mungkin dibatalkan hanya karena adanya tekanan dari pihak tertentu. Proses penjaringan perangkat desa, menurutnya, telah dilaksanakan sesuai aturan yang berlaku sehingga pemerintah desa tidak memiliki alasan untuk membatalkan hasil seleksi.

Kades Hoho Minta Perlindungan Hukum

Selain mengungkapkan kronologi kejadian, Hoho juga menyoroti respons aparat keamanan di lokasi yang dinilai kurang sigap dalam memberikan perlindungan saat kericuhan terjadi. Ia mengaku kecewa dengan situasi tersebut dan berencana mencari keadilan melalui jalur hukum hingga melaporkan peristiwa itu ke Propam Mabes Polri. "Saya pejabat pemerintah sudah melaksanakan pekerjaan sebaik-baiknya. Saya minta keadilan kepada Camat, Bupati, hingga Propam Mabes Polri," pungkasnya. Insiden ini kini menjadi perhatian masyarakat Banjarnegara, terlebih sosok Hoho Alkaf dikenal cukup aktif di media sosial dan memiliki pengikut yang cukup besar. Hingga saat ini, proses hukum terkait dugaan pengeroyokan terhadap kepala desa tersebut masih menjadi sorotan publik.

Posting Komentar untuk "Kades Hoho Viral Lagi, Curhatan Dihujani Pukulan dari Keluarga Terpandang Banjarnegara"