Keluarga di Jakut Bertahan dengan Air dan Bumbu
Kehidupan Keluarga Mardiyah di Gang Sempit Jakarta Utara

Rumah-rumah yang berdempetan di Jalan Warakas I, Gang 23, RT 04 RW 07, Papanggo, Jakarta Utara, menjadi gambaran nyata dari kepadatan penduduk di kawasan tersebut. Gang sempit itu dipenuhi oleh kontrakan kecil yang saling berdekatan satu sama lain. Namun, kondisi ini bukan hanya soal tata ruang, tetapi juga mencerminkan kesulitan ekonomi yang dialami banyak keluarga.
Salah satu contohnya adalah keluarga Mardiyah (38) dan Abdul Jalil (39), beserta empat anak mereka. Mereka tinggal di sebuah kontrakan sepetak dengan fasilitas dapur dan kamar mandi yang sederhana. Dalam kondisi serba terbatas, Mardiyah kerap memikirkan cara agar keluarganya tetap bisa makan. Bahkan, ada masa ketika mereka hanya mengandalkan bumbu penyedap yang dicampur air sebagai lauk.
"Emang Royco cuma ditaburin aja di nasi. Kalau perlu dikasih air putih, diaduk aja. Seperti itu," ungkap Mardiyah saat ditemui.
Kesulitan Ekonomi yang Berat

Kesulitan ekonomi keluarga ini mulai terasa berat sejak 2024, saat Mardiyah mengandung anak keempatnya. Saat itu, kondisi kesehatannya menurun drastis. "Itu udah sakit-sakitan, terus ditambah saya habis lahiran juga beberapa kali bolak-balik ke rumah sakit, terus diopname, sempat koma juga. Tapi komanya enggak lama, cuma untuk pemulihan dan kesehatannya itu butuh biaya juga," tutur Mardiyah.
Biaya pengobatan yang besar membuat kondisi keuangan keluarga semakin terpuruk. Suaminya yang bekerja sebagai buruh harian di sebuah gudang pabrik botol terpaksa meminjam uang dari berbagai pihak. "Masalah untuk pinjaman itu suami bilangnya dari perusahaan. Enggak cuma dari perusahaan aja, dari teman-temannya juga ada. Jadi utangnya itu enggak di satu tempat," kata Mardiyah.
Keterbatasan Penghasilan

Akibatnya, setiap kali menerima gaji, sebagian besar penghasilan langsung habis untuk membayar utang dan sewa kontrakan. Jika uang yang tersisa tidak cukup untuk kebutuhan sehari-hari, mereka terpaksa kembali meminjam. "Jadi setiap gajian itu kita prioritaskan buat bayar utang. Sisanya buat bayar kontrakan. Kalau misalnya enggak ada lagi, ya minjam lagi. Jadi gali lubang tutup lubang lah istilahnya," ujarnya.
Untuk menambah penghasilan, Jalil juga bekerja sebagai ojek. Namun pemasukan dari pekerjaan itu tidak menentu. "Kalau suami pulang ngojek malam, misalnya dapat Rp 25 ribu. Kadang Rp 17 ribu dapat, kadang enggak sama sekali. Kalau lagi enggak ada sama sekali ya sudah, sabar aja," kata Mardiyah.
Tidak Ada Uang Untuk Beli Susu Bayi

Di tengah kondisi itu, Mardiyah tetap berusaha memastikan anak-anaknya tidak kelaparan. Namun keadaan sering kali memaksanya mengambil keputusan sulit. Anak keempatnya yang masih bayi terkadang hanya diberi air putih ketika tidak ada uang untuk membeli susu. "Tapi kalau misalnya lagi enggak ada sama sekali, ya air putih. Paling kalau sehari enggak ada susu, dia sementara pakai air putih. Itu dari bayi," ucapnya.
Meski demikian, ia tetap berusaha mencari cara agar bayinya bisa mendapatkan susu. Mardiyah bahkan menjual barang-barang yang ada di rumahnya. "Nanti kita usahain. Misalnya enggak ada uang, akhirnya saya mikir apa yang harus dijual. Sampai semuanya sudah kejual, buat beli susu," tuturnya.
Dampak pada Pendidikan Anak

Kesulitan ekonomi itu juga berdampak pada pendidikan anak-anaknya. Dua anak tertuanya kini tidak lagi bersekolah. Seharusnya, jika masih melanjutkan pendidikan, anak pertamanya kini duduk di kelas 2 SMP pada usia 14 tahun. Sementara anak keduanya seharusnya berada di kelas 4 SD pada usia 10 tahun. "Enggak sekolah yang nomor pertama dan kedua," kata Mardiyah.
Ia menjelaskan bahwa meski sekolah negeri tidak memungut biaya SPP, masih ada berbagai kebutuhan lain yang harus dipenuhi. "Anak masuk SMP itu juga enggak ada biaya. Memang sekolahnya negeri, tapi untuk keperluan kayak tebus seragam, buku-buku. SPP memang gratis, tapi ada kegiatan di luar itu, contohnya outbound atau renang," sambungnya.
Tetap Bersyukur dan Menolak Uang Haram
Di tengah segala keterbatasan yang dihadapi, Mardiyah berusaha tetap bersyukur. Ia memandang kondisi yang dialaminya sebagai ujian hidup. "Dari situ hijrah, saya enggak kerja. Pendapatan sudah enggak stabil banget istilahnya. Tapi masih cukup, enggak separah ini. Makin ke sini, ujiannya makin bertubi-tubi," ungkapnya.
Meski hidup dalam kekurangan, Mardiyah menegaskan bahwa ia dan keluarganya tidak ingin menerima uang yang dianggap tidak halal. "Ada pemilihan itu ya, yang dibilang serangan fajar, suap. Kami enggak mau nerima. Kami enggak mau nerima yang haram. Jadi kalau hijrah itu siap meninggalkan yang haram," kata Mardiyah. "Walaupun kondisinya kesulitan, lebih baik daripada kita makan yang haram. Lebih baik kelaparan," tegasnya.

Posting Komentar untuk "Keluarga di Jakut Bertahan dengan Air dan Bumbu"