Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Ketua RW Usaha Bantu Keluarga Konsumen Penyedap di Papanggo Jakut

Kehidupan Keluarga Abdul Jalil yang Membuat Ketua RW Terkejut


Hendri, Ketua RW 7 di Jalan Warakas 1, Gang 23, Papanggo, Jakarta Utara mengaku kaget setelah mengetahui ada warganya yang hidup dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Menurutnya, keluarga Abdul Jalil (39) dan Mardiyah (38), beserta keempat anaknya, tampak baik-baik saja sehari-hari.

"Kami tidak menyangka ada warga yang sampai separah itu kehidupannya. Karena benar-benar tinggal di belakang masjid. Keseharian kami melihat mereka normal-normal saja," ujar Hendri saat ditemui.

Bantuan yang Belum Cukup

Menurut Hendri, Abdul Jalil belum terdaftar sebagai penerima bantuan apa pun. Ia menjelaskan bahwa baru setelah kasus ini viral, beberapa teman dari kelurahan mulai bergerak untuk membantu.

"Nah, itu setahu saya belum masuk. Belum masuk penerima bantuan. Cuma dalam waktu, begitu setelah viral ini, nah itu baru beberapa teman-teman dari kelurahan juga ya sudah mulai bergerak akhirnya untuk membantu," jelas Hendri.

Hendri kini sedang berusaha agar keluarga Abdul Jalil mendapatkan prioritas dalam penerimaan bantuan. Ia akan mengkoordinasikan dengan Ketua RT setempat.

"Yang penting gimana caranya saya ke Pak RT, 'Pak ini setiap ada bantuan prioritas ini, prioritas ini.' Makanya ini pun masukin Ramadan ini dari kelurahan juga, dari Baznas terutama itu minta beberapa data terutama Duafa. Nah beliau itu saya masukkan sebagai salah satu penerima manfaat itu," tambahnya.

Bantuan dari Tetangga

Meski telah beberapa kali memberi bantuan pada Abdul Jalil, Hendri mengatakan bahwa bantuan tersebut masih kurang untuk meringankan beban keluarga tersebut. Apalagi, keluarga tersebut memiliki empat anak yang harus dipenuhi kebutuhannya.

"Dalam artian ada perhatian dari mungkin tetangga sekitarnya. Bahkan termasuk ya Pak RT dan saya pribadi pun beberapa kali kami kasih bingkisan juga untuk membantu meringankan kehidupan sehari-harinya. Mungkin memang enggak cukup ya artinya untuk kehidupan, tapi minimal mengurangi beban-beban makan sehari-hari dia," ujar Hendri.

Baru Tahu Setelah Viral

Hendri menjelaskan bahwa Abdul Jalil aktif dalam kegiatannya sehari-hari, terutama di Masjid Jami' Baitul Amiin yang berada di depan kontrakannya. Bagi Hendri, miris rasanya melihat uang pemasukan masjid sementara di belakangnya ada warga yang kesulitan makan sehari-hari.

"Memang kesehariannya aktif di masjid. Beliau aktif di masjid, bahkan beliau itu keponakannya Ketua DKM masjid sendiri," ujar Hendri.

"Makanya kalau kita bicara terkait informasi pelaporan-pelaporan pemasukan masjid, ya miris, ya kan. Di mana masjid mengumumkan gitu kan, pemerolehan keuangan masjid, tapi ada warga kita yang di situ sedang kelaparan di belakang masjid persis," tambahnya.

Latar Belakang Kesulitan

Hendri mengungkapkan bahwa ia baru mengetahui kondisi Abdul Jalil setelah viral, setelah dikunjungi oleh konten kreator Abi Fatimah Fahira beberapa pekan lalu.

"Ya mungkin sekitar tiga minggu yang lalu atau satu bulan yang lalu lah. Itu pun saya dilaporkan sama Pak RT. 'Pak, ada warga kita,' saya kaget gitu kan," ungkap Hendri.

Menurut Hendri, kebutuhan keluarga tersebut lebih besar dibandingkan pemasukannya ditambah dengan utang yang menjeratnya. Awalnya, kesulitan terjadi ketika istrinya hamil dan harus melahirkan, sehingga Abdul Jalil meminjam uang ke perusahaan.

"Nah, ini perusahaan ini mungkin entah kenapa membebankan pinjaman itu ya di luar standar pemasukan dia. Akhirnya keteteran lah si warga ini. Sehingga yang beliau bawa pulang ke rumah itu mungkin di apa, dipas-pasin untuk kehidupan sehari-hari sama bayar kontrakan pun ngepres, akhirnya dia (ambil) side job," tambahnya.

Pekerjaan Sampingan yang Tidak Cukup

Hendri mengetahui bahwa Abdul Jalil mengambil pekerjaan sebagai tukang ojek pangkalan. Namun, pemasukannya ternyata tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

"Jadi tukang ojek, malam, sepulang kerja itu. Ya, istilahnya jauh dari kata cukup gitu. Akhirnya keteteran lah dari situ. Nah, sehari-hari buat nutupin itu dia coba jadi ojek pangkalan. Akhirnya paling bawa pulang ke rumah itu semalam katanya ceritanya itu bisa Rp 20 ribu Rp 30 ribu. Nah, sedangkan buat makan sehari-hari anak empat itu kan repot," tutur Hendri.

Posting Komentar untuk "Ketua RW Usaha Bantu Keluarga Konsumen Penyedap di Papanggo Jakut"