Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pilu, Anggota DPRD Tebingtinggi Ratapi Putrinya yang Tewas di Kos

Pilu, Anggota DPRD Tebingtinggi Ratapi Putrinya yang Tewas di Kos

Kehilangan yang Menyedihkan

Di kursi besi di depan kamar jenazah RS Bhayangkara TK II Medan, Mangatur Naibaho, anggota DPRD Tebingtinggi tampak murung. Wajahnya yang letih kelelahan menggambarkan kesedihan dan kepedihan yang dialaminya. Ia baru saja tiba di Kota Medan setelah menempuh perjalanan darat berjam-jam dari Pekanbaru. Mengenakan kemeja panjang warna merah dan kacamata hitam, ia bersandar sambil meratap ke arah peti jenazah putrinya, Maria Agustina Naibaho, 23 tahun.

Meski tatapannya kosong, matanya tak lepas memandang peti berwarna putih dengan motif emas yang berisi jenazah anaknya. Mangatur masih tak percaya bahwa anak ketiganya begitu cepat meninggal dunia. Di belakang peti mati terdapat patok salib berwarna putih bertuliskan Maria Agustina Naibaho, yang lahir 1 Agustus 2023, dan wafat 12 Maret 2026. Sedangkan di depan peti, mobil ambulans sudah bersiap-siap.

Tidak lama kemudian, anggota keluarga mendatangi Mangatur, memberitahu bahwa jenazah sudah siap untuk diberangkatkan. Dengan bantuan keluarga, ia bangkit perlahan-lahan, berdiri, dan melangkah pelan ke arah peti. Langkahnya berat, tubuhnya seolah kaku, matanya berbinar menahan tangis. Beberapa keluarga mencoba menguatkan Mangatur dengan memeluknya agar tetap kuat.

Saat mendekati peti jenazah, ia membuka pintu kayu kecil untuk melihat wajah anaknya. Usai dibuka, dadanya seakan semakin sesak melihat wajah putri terakhirnya. Kemudian ia dan beberapa anggota keluarga berdiri di depan peti, dan berdoa bersama. Setelah selesai berdoa, sejumlah orang memasukkan peti jenazah ke mobil ambulans. Mangatur, yang tidak mampu berjalan sendiri, dibantu masuk ke mobil untuk ikut iring-iringan mobil jenazah.

Ketika diwawancarai, suara Mangatur begitu lirih. Ia menjelaskan bahwa Maria Agustina Naibaho adalah anak ketiga dari tiga bersaudara. Dirinya mendapat informasi bahwa anaknya meninggal dunia saat sedang dalam perjalanan di bus dari Pekanbaru, Kamis (12/3/2026) malam, sekitar pukul 20:00 WIB. Tiba-tiba, handphonenya berdering dan menerima telepon dari rekan kerjanya. Itulah saatnya ia mendapatkan informasi bahwa Maria Agustina sudah meninggal dunia, di dalam kamar indekosnya.

"Saya tahu tadi malam, ketika dalam perjalanan di Pekanbaru sekitar pukul 20:00 WIB. Sahabat menghubungi saya," kata Mangatur Naibaho, Jumat (13/3/2025) di RS Bhayangkara TK II Medan. "Keluarga tidak menghubungi saya karena saya sedang dalam perjalanan," tambahnya.

Mangatur menceritakan, sebelum ditemukan meninggal dunia, pada Selasa 10 Maret kemarin, Maria menghubungi istrinya. Maria mengirim pesan bahwa dirinya sedang sakit kepala dan suaranya hilang. Menurutnya, Maria tidak memiliki riwayat penyakit tertentu. "Sebelumnya tidak ada, tetapi kata mamaknya hari Selasa 10 Maret, melalui WhatsApp dia mengeluh sakit kepala dan suaranya hilang."

Penghuni indekos dan warga sekitar Jalan Rela, Kecamatan Medan Perjuangan, pada Kamis (12/3/2026) malam akhirnya heboh. Salah satu penghuni indekos ditemukan meninggal dunia dan mulai mengeluarkan bau tak sedap. Penemuan mayat pertama kali diketahui oleh pacar korban, Sanggam Elroi Marbun, yang mendatangi kost korban di Jalan Rela, Kelurahan Sidorejo, Kecamatan Medan Tembung, sekitar pukul 20.00 WIB. Karena tidak ada sahutan dari dalam kamar dan pintu dalam keadaan terkunci, Sanggam kemudian menyuruh kedua temannya untuk mendobrak pintu kamar korban.

Saat pintu terbuka, Sanggam menemukan korban sudah meninggal dunia dan tercium bau busuk dari kamar korban. Kemudian Sanggam dan temannya memanggil Ibu Kost dan melaporkan kepada Pihak Kelurahan dan Polsek Medan Tembung. Menurut Kompol Ras Maju Tarigan, di jenazah korban tidak ditemukan adanya tanda-tanda kekerasan. "Jadi korban itu masih berbicara sama mamanya dibilang demam," katanya.

Posting Komentar untuk "Pilu, Anggota DPRD Tebingtinggi Ratapi Putrinya yang Tewas di Kos"