Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Riset Sosiologi: MBG Tingkatkan Solidaritas dan Semangat Belajar Siswa

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) Memperkuat Solidaritas dan Semangat Belajar Siswa


Program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah terbukti mampu memperkuat solidaritas dan semangat belajar siswa di berbagai sekolah di Indonesia. Hasil kajian yang dilakukan oleh sejumlah pakar dan lembaga penelitian menunjukkan bahwa MBG tidak hanya memberikan manfaat kesehatan, tetapi juga berdampak positif pada perkembangan sosial dan psikologis siswa.

Dampak Sosial dan Psikologis dari MBG

Sosiolog Musni Umar menyatakan bahwa MBG tidak hanya membantu memastikan siswa mendapatkan asupan gizi yang cukup, tetapi juga berperan dalam membangun interaksi sosial serta meningkatkan semangat belajar di lingkungan sekolah. Ketersediaan makanan bergizi yang teratur dapat membantu siswa mengikuti proses belajar dengan lebih fokus dan nyaman.

“MBG di sekolah bisa menciptakan kesetaraan, kebersamaan, dan kedekatan satu sama lain. Selain itu, siswa bisa mengikuti pelajaran dengan baik dan nyaman karena tidak dalam lapar,” ujarnya.

Musni mengungkapkan pengalamannya saat masih kecil di Kendari, Sulawesi Tenggara. Saat itu ia terbiasa berangkat sekolah tanpa sarapan, sehingga kondisi tubuhnya cenderung kurus dan sering sakit. Kondisi ini berubah saat ia menjadi mahasiswa dan tinggal di asrama dengan jadwal makan bersama yang teratur.

Menurutnya, secara sosiologis, di masa depan akan tumbuh tunas-tunas bangsa yang sehat, cerdas, dan memiliki solidaritas tinggi terhadap sesama karena kedekatan satu sama lain sewaktu makan bersama.

Peran MBG dalam Pendidikan Karakter

Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan Kemendikdasmen Toni Toharudin menjelaskan bahwa program MBG yang digagas pemerintah menjadi pondasi baru dalam menciptakan pendidikan bermutu di Indonesia. MBG tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga pada budaya sekolah.

Praktik makan bersama menciptakan ruang interaksi sosial yang lebih inklusif dan memperkuat kebersamaan di antara siswa. Aktivitas ini juga menjadi sarana pembelajaran karakter yang alami. Siswa belajar disiplin, menjaga kebersihan, dan menghargai makanan.

“Ini menunjukkan bahwa pendidikan karakter tidak selalu harus melalui pendekatan formal, tetapi dapat tumbuh melalui pengalaman keseharian yang dirancang secara bermakna,” tegas Toni.

Pengalaman sosial ini menjadi penting untuk membangun empati, kolaborasi, dan tanggung jawab sosial. MBG membuka peluang bagi sekolah untuk membangun budaya belajar yang sehat dan positif. Selain itu, MBG juga berpotensi membentuk ulang relasi pedagogis di sekolah. Aktivitas makan bersama menciptakan momen non-formal yang mempertemukan siswa dan guru dalam suasana yang lebih setara dan humanis.

Interaksi semacam ini memperkuat rasa aman psikologis (psychological safety) yang menjadi pondasi penting bagi pembelajaran mendalam. “Ketika siswa merasa dihargai dan terhubung secara sosial, mereka cenderung lebih berani bertanya, bereksplorasi, dan terlibat aktif dalam proses belajar,” kata Toni.

Hasil Penelitian dan Tanggapan Masyarakat

Hasil penelitian Pusat Kajian Sosiologi Universitas Indonesia Maret 2026 serta kajian Research Institute of Socio-Economic Development pada Februari 2026 juga menunjukkan hal yang sama. Riset dilaksanakan pada 30 sekolah dengan 1.267 sampel (siswa, guru, orang tua, dan pengelola dapur MBG) di lima kabupaten/kota (Kota Kupang, Kota Depok, Kabupaten Sukabumi, Kabupaten Garut, dan Kabupaten Pesisir Selatan).

Hasilnya menunjukkan bahwa program MBG mampu memperkuat kebersamaan di antara seluruh siswa dan guru di sekolah. Tak hanya dari aspek sosiologis, program ini juga mampu meringankan beban orang tua secara ekonomi, khususnya dari kalangan menengah ke bawah.

Sekitar 72% orang tua melaporkan anak mereka menjadi lebih rutin mengonsumsi makanan bergizi, sedangkan 55% menyatakan anak lebih mudah menerima variasi jenis makanan yang sebelumnya jarang dikonsumsi.

“Temuan paling menggembirakan dari riset ini adalah tingginya penerimaan masyarakat, dari kalangan ekonomi menengah ke bawah. Para orang tua siswa yang ditemui di lapangan umumnya memberikan penilaian yang sangat positif terhadap program ini,” jelas Ketua LabSosio-LPPSP FISIP UI, Hari Nugroho.

Kesimpulan

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah terbukti memberikan dampak positif yang luas, baik dari segi kesehatan, sosial, maupun psikologis. Melalui aktivitas makan bersama, MBG tidak hanya memenuhi kebutuhan gizi siswa, tetapi juga membangun ikatan kebersamaan, empati, dan kerja sama antar siswa dan guru. Dengan demikian, MBG menjadi salah satu pondasi penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang sehat dan bermutu.

Posting Komentar untuk "Riset Sosiologi: MBG Tingkatkan Solidaritas dan Semangat Belajar Siswa"