Jaga Ucapan dan Jari Saat Ramadan, Ulama Ingatkan Netizen Bijak Berkomentar di Media Sosial

Ramadan: Madrasah Agung untuk Pengendalian Diri
Ramadan bukan hanya sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjadi kesempatan emas untuk melatih pengendalian diri secara holistik. Hal ini mencakup interaksi di dunia nyata maupun dunia maya. Dalam kultum yang disampaikan oleh Dr. H. Syamsu Madyan, Lc., MA., dosen tetap Fakultas Agama Islam Universitas Islam Malang (Unisma), ia menjelaskan bahwa puasa adalah bentuk pendidikan spiritual yang mendalam.
Esensi Puasa: Pengendalian Diri
Menurut Syamsu Madyan, esensi puasa terletak pada kemampuan seseorang untuk mengendalikan diri, baik secara fisik maupun mental. Ia menekankan bahwa pengendalian diri tidak hanya terlihat dari tindakan luar, tetapi juga dari kekuatan hati dan pikiran.
"Yang paling utama dalam puasa adalah pengendalian diri, khususnya lisan. Jika pengendalian di dalam hati itu tidak terlihat, maka yang terlihat adalah yang di luar, yaitu ucapan dan perbuatan," ujarnya.
Ia juga menyebutkan bahwa salah satu hikmah dari nafas orang berpuasa adalah sebagai pengingat untuk lebih banyak diam. "Sesuatu yang paling luar dari diri kita adalah lisan. Salah satu hikmah kenapa orang puasa itu dibuat nafasnya bau oleh Allah Subhanahu wa ta'ala adalah karena memang disuruh diam."
Mengelola Media Sosial Selama Ramadan
Selain itu, Syamsu Madyan juga membahas pentingnya menjaga media sosial selama bulan Ramadan. Ia menyarankan beberapa strategi praktis untuk mengelola penggunaan media sosial:
-
Persiapan sebelum Ramadan:
Mulailah dengan menyetel algoritma media sosial Anda. Dengan cara ini, konten-konten negatif atau yang bisa menyebabkan dosa dapat diminimalkan. "Di bulan-bulan lalu kamu sudah mulai dislike-dislike konten-konten yang sekiranya membawa madarat, membawa membuat dirimu dosa. Itu satu ya. Sehingga yang menjadi FYP-mu adalah katakanlah konten-konten dakwah, ngaji, begitu lah." -
Kurangi intensitas penggunaan:
Jika Anda belum mempersiapkan diri, langkah yang bisa dilakukan adalah mengurangi intensitas penggunaan media sosial secara drastis. "Kalau sudah terlanjur ini sudah di bulan Ramadan ya sudah kurangi. Jangan waktu dihabis-habiskan dengan sosmat atau dengan HP." -
Tindakan nyata:
Syamsu Madyan mendorong untuk mengambil tindakan nyata, seperti menonaktifkan sementara grup percakapan yang tidak penting atau sepakat mengalihkan obrolan ke konten positif seperti khataman selama Ramadan. "Ini penting ya komitmen untuk kalau yang grup-grup begitu ya penting untuk menyengaja. Menyengaja itu adalah berniat untuk bersama-sama mengendalikan diri."
Memanfaatkan Waktu Mustajab
Ia juga mengingatkan agar tidak menyia-nyiakan waktu-waktu mustajab seperti saat sahur. "Waktu sahur itu bukan waktu untuk manusia. Ibaratnya ya kita makan secukupnya kemudian segera bermunajat. Itu sayang sekali ya. Waktu emas itu golden times untuk kita berdua-duaan dengan Allah Subhanahu wa ta'ala."
Teknologi sebagai Alat Bantu
Syamsu Madyan mengajak masyarakat untuk bijak dalam menggunakan teknologi, khususnya ponsel dan gadget. Ia menyamakan teknologi dengan pisau, yang bisa digunakan untuk memotong tempe atau wortel, tetapi juga bisa digunakan untuk membunuh jika tidak digunakan dengan benar. "Untuk masyarakat yang menonton untuk bijaksana di dalam penggunaan HP-nya, gadgetnya, alangkah bagus jika alat-alat ini seperti pisau bisa dipakai memotong tempe, wortel, bisa juga untuk membunuh kan gitu tergantung orangnya."
Dengan demikian, media sosial justru dapat dikendalikan untuk menjadi sarana ibadah dan kebaikan. Dengan kesadaran dan komitmen, setiap individu dapat memanfaatkan Ramadan sebagai momentum untuk meningkatkan kualitas diri dan menjaga hubungan dengan Tuhan.

Posting Komentar untuk "Jaga Ucapan dan Jari Saat Ramadan, Ulama Ingatkan Netizen Bijak Berkomentar di Media Sosial"