Kapten Miswar Hilang Kontak di Selat Hormuz, Keluarga Khawatir
Kapten Miswar, Pelaut Senior yang Hilang Kontak di Selat Hormuz
Keluarga dari Kapten Miswar, seorang pelaut asal Sulawesi Selatan, kini sedang diliputi rasa cemas setelah ia hilang kontak saat menahkodai kapal tugboat Mussafah 2 di perairan Selat Hormuz. Selat ini merupakan jalur pelayaran internasional yang sangat penting dan kini tengah memanas akibat situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Miswar adalah sosok penting bagi keluarganya. Ia telah menghabiskan 26 tahun dalam dunia maritim sebagai pelaut senior. Lulusan Politeknik Ilmu Pelayaran Makassar, ia tidak hanya menjadi tulang punggung keluarga, tetapi juga membantu banyak keponakan untuk bersekolah.
Keluarga dan Kehidupan Kapten Miswar
Sumarlin Ahmad, adik ipar Kapten Miswar, menjelaskan bahwa Miswar menikah dengan kakaknya, Marliani Ahmad, sekitar tahun 2002–2003. Dari pernikahan tersebut, mereka memiliki dua orang anak. Anak pertama bernama Muhammad Qira’atul Miswar, yang kini bertugas sebagai anggota kepolisian. Sementara anak kedua bernama Muhammad Ayatullah Miswar.
Keluarga Miswar tinggal di Kelurahan Ponrang, yang berada di bahu jalan poros Makassar-Palopo. Lokasi rumahnya sekitar 17 kilometer dari Kota Belopa. Sebagai pelaut profesional, Miswar bekerja sebagai kapten kapal tugboat Mussafah 2 milik perusahaan Abu Dhabi Ports. Biasanya, ia bertugas di sekitar Pelabuhan Abu Dhabi, memandu kapal-kapal besar yang ingin masuk ke pelabuhan.
Namun, kali ini misi yang dijalaninya berbeda. Ini pertama kalinya ia berlayar sejauh itu. Menurut Sumarlin, Miswar sempat menyampaikan rencananya untuk pensiun dan kembali menjadi dosen, mengajar calon pelaut muda.
Peristiwa Hilang Kontak
Hilang kontak terjadi setelah kapal yang dinakhodainya dilaporkan hilang di perairan Selat Hormuz. Selat ini memiliki lebar sekitar 33 kilometer dan merupakan jalur pelayaran penting yang dilewati oleh kapal pengangkut minyak. Sekitar 20 persen konsumsi minyak global melalui selat ini setiap hari.
Menurut informasi awal, kapal Mussafah 2 diduga menjadi korban ranjau laut. Sumarlin mengatakan bahwa pihak keluarga menerima informasi dari rekan kerjanya, Capten Ismail, bahwa kapal yang dinakhodai Miswar terkena ranjau laut.
Sebelum komunikasi terputus total, Miswar sempat menghubungi istrinya pada Rabu (4/3/2026). Dalam percakapan terakhir itu, ia mengabarkan tengah menjalankan misi evakuasi terhadap kapal lain yang disebut-sebut lebih dulu terkena ranjau di perairan tersebut. Namun, ia juga melaporkan adanya gangguan pada sistem navigasi kapal.
"Beliau bilang GPS kapal error. Katanya seperti melihat sesuatu di sekitar kapal dan sempat meminta panduan," tambah Sumarlin.
Upaya komunikasi terakhir dilakukan oleh sang anak pada Kamis (5/3/2026) siang melalui pesan singkat. Namun pesan tersebut tidak pernah terbalas hingga kabar kehilangan ini muncul.
Harapan dan Upaya Pencarian
Titik terang kini diharapkan datang dari otoritas diplomatik. Menurut Sumarlin, pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) telah menghubungi keluarga untuk meminta data dan alamat lengkap Kapten Miswar di Luwu guna keperluan koordinasi.
“KBRI sudah menelepon. Katanya, setiap perkembangan informasi akan segera disampaikan kepada kami,” ungkap Sumarlin.
Di rumah Kapten Miswar di Kelurahan Pattedong, ramai dikunjungi kolega sejak Sabtu (7/3/2026) sore. Dari pantauan Tribun, sekitar empat mobil datang ke rumah yang berada persis di bahu jalan poros Makassar-Palopo itu.
Jasri, warga Desa Je'ne Maeja, Kecamatan Ponrang, mengatakan bahwa ia sempat satu mobil dengan Kapten Miswar saat berangkat ke Makassar. “Waktu itu mobil charter. Saya sama Capten Miswar dengan satu orang kemenakan istrinya. Kebetulan satu perusahaan di Abu Dhabi,” ujarnya.




Posting Komentar untuk "Kapten Miswar Hilang Kontak di Selat Hormuz, Keluarga Khawatir"