Rahmatsho, Pemain Asing PSIM Yogyakarta, Jalani Puasa di Indonesia Sambil Rindu Keluarga
Pengalaman Ramadan di Yogyakarta bagi Pemain Asing PSIM Yogyakarta
Rahmatsho Rahmatzoda, pemain asing dari Tajikistan yang bermain untuk PSIM Yogyakarta, berbagi pengalamannya menjalani bulan suci Ramadan 1447 Hijriah di Indonesia. Meski jauh dari kampung halamannya, ia tetap menikmati momen-momen spesial ini dan mengungkapkan rasa syukur atas kesempatan berada di Yogyakarta.
Kenangan dengan Keluarga di Tajikistan
Meskipun sedang menjalani Ramadan di Yogyakarta, Rahmatsho tidak bisa menyembunyikan kerinduannya terhadap keluarga di Tajikistan. Ia mengingat masa lalu saat bersama keluarga dan teman-temannya dalam merayakan bulan puasa. Baginya, kebersamaan dengan orang-orang tercinta adalah hal yang sangat istimewa.
“Tidak ada persiapan khusus untuk Ramadan kali ini. Hanya saja biasanya ada banyak keluarga dan teman. Menghabiskan bulan seperti ini bersama keluarga adalah hal yang sangat luar biasa,” ujarnya.
Namun, meski merasa rindu, Rahmatsho tetap memprioritaskan sepak bola sebagai bagian penting dalam hidupnya. Ia menyadari bahwa perjalanan karier sepak bolanya membutuhkan pengorbanan, termasuk menjalani Ramadan jauh dari keluarga.
Kehidupan di Yogyakarta
Rahmatsho mengaku sangat nyaman berada di Yogyakarta. Keramahan masyarakat setempat membuatnya mudah beradaptasi, termasuk dalam menjalani ibadah Ramadan. Ia juga menyukai suasana kota yang tenang dan ramah.
“Kesan saya sangat positif. Saya sangat jatuh cinta dengan negara ini dan Yogyakarta. Saya menyukai semuanya dan ingin tinggal di sini untuk waktu yang sangat lama. Menurut saya, esensi bulan suci Ramadan di mana pun tetaplah sama,” katanya.
Energi Tambahan Selama Ramadan
Selama Ramadan, Rahmatsho tidak merasa kesulitan menjalani latihan dan pertandingan. Justru, ia merasa mendapatkan energi tambahan selama bulan ini. Latihan intensif yang biasanya dilakukan sore hari sebelum berbuka puasa dapat ia jalani dengan baik.
Ia menjaga kondisi tubuhnya dengan pola makan teratur selama sahur dan berbuka. “Saya makan saat sahur di pagi hari, lalu berbuka di malam hari. Pada masa seperti ini saya justru merasa memiliki lebih banyak kekuatan dan energi,” ujarnya.
Makanan di Yogyakarta
Rahmatsho juga mengaku tidak kesulitan dalam memilih menu sahur maupun berbuka puasa. Ia menilai cita rasa makanan di Yogyakarta tidak jauh berbeda dengan yang ia temui di Tajikistan.
“Saya makan apa saja. Tentu saya suka makanan lezat. Pada dasarnya semua makanan di sini sama enaknya dengan di kampung halaman, jadi saya menyantap semuanya,” tuturnya.
Dukungan Suporter PSIM Yogyakarta
Di tengah perjuangannya merantau, dukungan para suporter PSIM Yogyakarta menjadi motivasi tambahan bagi Rahmatsho. Ia menyampaikan pesan hangat kepada para pendukung Laskar Mataram.
“Saya ingin mengucapkan terima kasih banyak kepada para pendukung karena selalu mendukung kami, terutama di bulan seperti ini. Semoga Allah menerima semua ibadah puasa kita dan meridai kita semua,” pungkasnya.

Posting Komentar untuk "Rahmatsho, Pemain Asing PSIM Yogyakarta, Jalani Puasa di Indonesia Sambil Rindu Keluarga"