Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Rumah Capten Miswar di Luwu Dipenuhi Kunjungan, Istri Terpukul Usai Kapal Hilang Kontak

Rumah Capten Miswar di Luwu Dipenuhi Kunjungan, Istri Terpukul Usai Kapal Hilang Kontak

Peristiwa Hilangnya Kapten Miswar

Rumah Capten Miswar di Kelurahan Pattedong, Kecamatan Ponrang, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, ramai didatangi oleh keluarga dan tetangga pada Sabtu (7/3/2026) malam. Lokasi rumah ini berjarak sekitar 25 kilometer dari Ibukota Luwu, Kota Belopa, dan terletak tepat di bahu jalan poros Makassar-Palopo.

Pantauan menunjukkan bahwa keluarga dari Capten Miswar mulai berdatangan sejak sore hari, sekitar pukul 16.30 Wita. Empat mobil tiba, membawa anggota keluarga dari Marliani Ahmad, istri Capten Miswar. Mereka datang setelah beredarnya informasi bahwa kapal Mussafa 2 yang dinakhodai oleh Capten Miswar hilang kontak tak jauh dari Selat Hormuz, Iran, Jumat (6/3/2026) pagi.

Selama dua malam, tetangga juga mengunjungi kediaman alumnus Politeknik Ilmu Pelayaran (PIP) Makassar itu. Tujuan mereka adalah untuk memberikan dukungan kepada istri dan anak Capten Miswar, karena hingga saat ini belum ada informasi resmi dari perusahaan Abu Dhabi Ports atau Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) tentang kondisi terkini Capten Miswar.

Kehidupan Capten Miswar

Capten Miswar dikenal sebagai pelaut berpengalaman asal Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan. Ia telah bekerja di dunia pelayaran selama lebih dari dua dekade. Sebagai alumni Politeknik Ilmu Pelayaran (PIP) Makassar angkatan ke-15, ia telah berlayar sekitar 26 tahun.

Bagi keluarga, Miswar bukan hanya seorang pelaut, tetapi juga tulang punggung keluarga besar. Menurut Sumarlin Ahmad (41), adik ipar Capten Miswar, beliau tidak hanya menafkahi anak dan istrinya, tetapi juga membantu beberapa sepupu dan kemenakannya untuk bersekolah.

Capten Miswar menikah dengan kakaknya, Marliani Ahmad, sekitar tahun 2002–2003. Dari pernikahan tersebut, mereka dikaruniai dua orang anak: Muhammad Qira’atul Miswar, yang kini bertugas sebagai anggota kepolisian, dan Muhammad Ayatullah Miswar.

Miswar berasal dari keluarga sederhana di Kabupaten Luwu. Orang tuanya tinggal di Desa Balo-Balo, Kecamatan Belopa, sementara Miswar menghabiskan masa kecilnya di Padang Sappa, Kecamatan Ponrang. Setelah berkeluarga, ia dan istrinya tinggal di Kelurahan Ponrang, yang lokasinya persis di bahu jalan poros Makassar-Palopo, sekitar 17 kilometer dari Kota Belopa.

Sebagai pelaut profesional, Miswar bekerja sebagai kapten kapal tugboat Mussafah 2 milik perusahaan Abu Dhabi Ports. Menurut Sumarlin, selama ini ia lebih sering bertugas di sekitar Pelabuhan Abu Dhabi untuk memandu kapal-kapal besar yang hendak masuk ke pelabuhan. Ini pertama kalinya ia berlayar sejauh itu.

Perjalanan Terakhir dan Kekhawatiran Keluarga

Capten Miswar sempat mengutarakan niatnya untuk pensiun melaut. Ia ingin kembali menjadi dosen, untuk mengajar calon pelaut-pelaut muda. Namun, kini keluarga hanya bisa menunggu kabar tentang keberadaan Kapten Miswar setelah kapal yang dinakhodainya dilaporkan hilang kontak di perairan Selat Hormuz.

Selat Hormuz dengan lebar sekitar 33 kilometer, menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab. Perairan tersebut dikenal sebagai jalur pelayaran internasional yang dilewati oleh kapal pengangkut minyak. Sekitar 20 persen konsumsi minyak global melalui selat ini setiap hari.

Kabar mengejutkan ini diterima oleh keluarga pada Jumat (6/3/2026). Informasi awal menyebutkan kapal milik perusahaan Abu Dhabi Ports tersebut diduga menjadi korban ranjau laut. Sumarlin Ahmad (41), kerabat keluarga Miswar, mengatakan bahwa pihak keluarga menerima informasi dari rekan kerjanya, Capten Ismail, bahwa kapal yang dinakhodai oleh Miswar terkena ranjau laut.

Sebelum komunikasi terputus total, Miswar sempat menghubungi istrinya pada Rabu (4/3/2026). Dalam percakapan terakhir itu, ia mengabarkan tengah menjalankan misi evakuasi terhadap kapal lain yang disebut-sebut lebih dulu terkena ranjau di perairan tersebut. Namun, ada firasat buruk yang sempat terlontar. Miswar melaporkan adanya gangguan pada sistem navigasi kapal.

Upaya komunikasi terakhir dilakukan oleh sang anak pada Kamis (5/3/2026) siang melalui pesan singkat. Namun pesan tersebut tidak pernah terbalas hingga kabar kehilangan ini muncul.

Menurut Sumarlin, kapal Mussafah 2 yang dinakhodai Capten Miswar biasanya hanya bertugas memandu kapal besar masuk ke pelabuhan Abu Dhabi. Misi menuju lokasi kejadian kali ini disebut sebagai perjalanan terjauh yang pernah ditempuh kapal tersebut. Dari pelabuhan Abu Dhabi itu, sekitar satu hari perjalan baru sampai ke lokasi kejadian.

Titik terang kini diharapkan datang dari otoritas diplomatik. Menurut Sumarlin, pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) telah menghubungi keluarga untuk meminta data dan alamat lengkap Capten Miswar di Luwu guna keperluan koordinasi.

Posting Komentar untuk "Rumah Capten Miswar di Luwu Dipenuhi Kunjungan, Istri Terpukul Usai Kapal Hilang Kontak"